Bagaimana
Hukumnya Merasa Sial Dengan Angka
13 Atau Lainnya ?
(Oleh : Syaikh
Al Munajid)
Segala Puji bagi Allah. Tidak layak bagi
seorang muslim yang mengimani Tuhannya dan Islam sebagai agamanya, dan
mengimani Muhammad SAW sebagai nabi dan Rasulnya juga beriman terhadap
Qodar baik dan buruknya, untuk meyakini adanya pengaruh tertentu dari
suatu dzat atau sifat, bahwa hal tersebut bisa mendatangkan manfaat atau
menolak mudharat, padahal tidak diajarkan. Dalam agama (syara), tetapi
hal itu hanya merupakan warisan jahiliyah yang sudah dibatalkan Islam,
dan kepercayaan semacam itu merupakan perbuatan musyrik yang
menghilangkan kesempurnaan tauhid karena hal itu hanyalah bujukan syetan
dan buaiannya. Seperti yang dicontohkan Allah tentang keluarga Fir'aun
dalam firmannya :
"Kemudian apabila datang kepada mereka
kemakmuran(kebajikan) mereka berkata : "ini adalah karena(usaha
kami)" dan jika mereka ditimpa kesusahan mereka lemparkan sebab
kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya." (QS
Al-A'raf : 31)
Mereka itu kalau ditimpa musibah atau paceklik mereka
lemparkan kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang menyertainya
dari orang-orang mukmin, kemudian Allah menjawab kesialan mereka itu
dengan firmannya :
"…ketauhilah sesungguhnya kesialan mereka itu
adalah ketetapan dari Allah"
Ibnu Abbas Radhiyallaahu anhu berkata: artinya adalah
apa yang telah ditentukan dan ditetapkan bagi mereka. Maka kesialan
mereka itu adalah karena kekufuran mereka dan karena mereka mendustai
ayat-ayat Allah dan RasulNya. terdapat beberapa hadits yang melarang
untuk merasa sial atau tathayur dengan sesuatu, Tathayur ini pada
mulanya adalah merasa sial pada sebagian burung, tapi kemudian menjadi
tanda bagi segala sesuatu yang disialkan, diantaranya seperti yang
terdapat pada hadits Abu Hurairah semoga Allah meridhainya. Bahwasanya
Nabi SAW bersabda:
" Tidak ada Adwa, thiarah, hamah dan shafar "
(HR. Bukhari muslim )
dan Muslim menambahkan dalam riwayatnya
" dan tidak ada nau dan Ghaul "
Maka Nabi SAW melarang Adwa (penularan penyakit ) yang
sudah menjadi anggapan orang-orang jahiliyah dalam menyandarkan penyakit
kepada selain Allah, dan bahwa penyakit itu terjangkit atau menular
dengan sendirinya tanpa kehendak dan takdir Allah ta'ala, lantas Nabi
mengkhabarkan bahwa semua itu terjadi atas kehendak dan takdir Allah
Ta'ala dan seorang hamba diperintah untuk menjauhi sebab-sebab kejahatan
dan mencari keselamatan. Perkataan Nabi SAW :
"Tidak ada Shafar"
maksudnya seperti pendapat salah satu dua pendapat
ulama yaitu "Bulan Shafar" dimana orang-orang jahiliyah
menganggap sial dengan bulan itu, seperti kata Muhammad bin Rasyid dari
orang yang pernah mendengarnya berkata:
"Adalah orang-orang jahiliyah merasa sial dengan
bulan shafar, mereka mengatakan bahwa bulan shafar adalah bulan yang
membawa kesialan tidak menguntungkan, maka nabi membatalkan semua itu.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
"Merasa sial dengan bulan shafar termasuk jenis
thiyarah yang terlarang, demikian pula merasa sial dengan sebagian hari
seperti dengan hari Rabu. Dan orang-orang jahiliyah menganggap sial
terhadap bulan Syawal khususnya dalam pernikahan."
Dan tidak diragukan lagi bahwa menganggap sial dengan
angka 13 seperti pertanyaan diatas adalah termasuk jenis thiyarah, yang
tidak ada keterangan satu dalil pun baik dari Al-qur'an ataupun Sunnah
yang menjelaskan bahwa pada angka(hari) tsb ada sebab-sebab kesialan,
atau ketidak beruntungan. Hari itu adalah hari biasa seperti hari-hari
lainnya. Adapun kejadian-kejadian yang terjadi pada hari itu adalah
berdasarkan ketentuan dan takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk terjadi
dengan cara seperti itu.
Andaikan setiap orang menyibukkan diri untuk
menghitung nomor-nomor dan tanggal yang padanya terjadi musibah-musibah
yang menimpa umat, maka akan terdapat keselarasan diantara sebagiannya,
akan tetapi keselarasan ini tidak ada hubungannya dengan merasa sial
dengan angka atau tanggal dimana terjadi suatu kejadian atau musibah
itu.
Adapun obat kegalauan semacam ini adalah hendaknya
seorang hamba menguatkan hati, keyakinan dan tawakalnya kepada Allah,
dan hendaknya mengetahui bahwa tidak ada satu kejadianpun yang menimpa
kecuali berdsarkan taqdir(ketentuan) dari Allah, dan hendaknya
berhati-hati terhadap buaian syetan dalam godaan-godaannya serta
jalan-jalannya, seseorang itu terkadang dihukum dengan terjerumus kepada
sesuatu yang dibenci, itu dikarenakan ia berpaling dari iman kepada
Allah dan berpaling dari mengi'tikadkan bahwa segala kebaikan itu berada
ditangan Allah, Dialah satu-satunya yang dapat menolak mudharat dengan
kuasanya dan kelembutannya.
Dan Nabi telah memberikan petunjuk kepada kita bila
kita terjerumus pada satu thiyarah atau kesialan dengan satu
kaffarah(tebusan), seperti pada hadits yang terdapat pada hadits
Abdullah bin Umar bahwasanya Nabi bersabda :
"barang siapa yang mengurungkan hajatnya
(kepentingannya) karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik"
para sahabat bertanya :
"Lalu apakah sebagai tebusannya ? " beliau menjawab
"supaya dia Mengucapkan..." yang artinya :
"Ya Allah tiada kebaikan kecuali kebaikan dari
Engkau, tiada kesialan kecuali kesialan dari Engkau dan tiada sembahan
yang haq selain Engkau".
|